Site Overlay

BEING OR BEYOND 4.0?

Ketika menarik benang merah dalam buku Yuval Noah Harari yang berjudul Sapiens, maka dari sudut pandang saya adalah;

“Kekuatan manusia untuk bisa mendominasi dalam masyarakat dunia adalah fleksibilitasnya dalam sebuah kerumunan. Tiap-tiap kerumunan diikat oleh imajinasi-kisah-dogma melalui proses transfer informasi yang sistemnya selalu ditingkatkan secara terus menerus.”

Lantas peradaban setahap demi setahap terus berkembang dari peradaban batu tumpul, api, mesin, komputer, hingga mencapai sebuah era baru yang kita sebut revolusi industri 4.0. Sebuah era di mana sistem transfer informasi mulai telah berbasis internet (internet of things), siber fisik (cyber physical), dan kecerdasan buatan (artificial intellegence).

Melihat dari pesatnya perkembangan teknologi berbasis IOT, Cyber Phisycal, dan AI, maka yang harus mulai disadari adalah akan sejauh mana capaian inovasi teknologi era 4.0 ini?

Perusahaan-perusahaan besar mulai berlomba-lomba untuk mengadakan research tentang berbagai kemungkinan dalam bentuk kecerdasan buatan yang bisa semaksimal mungkin untuk diciptakan dan lantas ditanamkan ke dalam device atau robot-robot agar memiliki kemampuan motorik dan kognitif yang menyerupai manusia.

Bahkan diam-diam terdapat sekerumunan manusia dalam ‘fiksi’nya sudah memiliki mimpi untuk menciptakan teknologi kecerdasan buatan yang mampu mencerdaskan dirinya sendiri (self learning). Fiksi itu dideklarasikan dalam film terminator dengan perusahaan skynet dengan project Genesys dimana Kecerdasan Artifisial mampu mencerdaskan dirinya sendiri.

Tidak hanya dalam film, di dunia nyata pun kini perusahaan teknologi besar Google dalam sebuah project yang dinamakan Alphabet telah memiliki divisi sendiri yang bernama Google Deep Mind di mana fokus divisi ini adalah menciptakan sebuah sistem kecerdasan buatan yang mampu mencerdaskan dirinya sendiri.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh institusi riset swasta dan universitas yang terletak di kota Cambridge–Massachusetts Institute of Technology atau MIT, telah memunculkan hasil bahwa;

“Kecerdasan buatan di tahun 2013 telah setara dengan kecerdasan anak berusia 4 tahun. Nantinya kecerdasan buatan di tahun 2029 telah setara dengan manusia dewasa, bahkan kemampuannya dalam menghitung telah jauh melampaui. dan diperkirakan pada tahun 2040 kecerdasan buatan akan melampaui kecerdasan manusia.”

So, what?

Ketika pada akhirnya robot-robot mampu menyelesaikan tugas manusia dengan capaian kecerdasan yang bahkan melampaui kecerdasan manusia. Ketika kebutuhan bersosialisasi dalam sebuah kerumunan, dimana kemanusiaan (saling menghormati, tenggang rasa, dsb.) kita sebagai manusia tidak lagi terjadi. Ketika kebutuhan akan keberadaan manusia yang lainnya tidak terjadi lagi. Bahkan di tahun 1996, ‘Declaration of Cyberspace’ oleh John Perry Barlow, co-founder of the nonprofit Electronic Frontier Foundation, a former cattle rancher and Grateful Dead lyricist, secara implisit meragukan kehadiran sebuah negara sebagai kekuatan besar untuk mengikat sebuah kerumunan besar.

Maka menjadi sebuah pertanyaan besar dalam masa depan 4.0; “di mana letak jati diri manusia untuk bisa disebut sebagai manusia?”

Meski Jepang sudah mencoba menjawab hal tersebut dengan menghadirkan society 5.0, tapi apakah benar-benar akan menjadi sebuah jawaban? Sedangkan di sisi lain, batasan kecerdasan buatan meski telah terjadi kesepakatan, namun secara hukum belum atau bahkan tidak memiliki batasan. Dan sialnya, kecerdasan buatan memiliki perkembangan yang sangat pesat.

So, being or beyond sapiens 4.0? Menjadi manusia dengan jati diri manusia seutuhnya adalah sebuah keharusan. Jika tidak? bukan kemustahilan jika pada akhirnya kemanusiaan manusia terdegradasi oleh buatannya sendiri.

Malang, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *